Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Mataram,
Lombok, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat
1151 H/1730 M). Ulama tarekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa
Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang.
Abdul Muhyi datang dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Sembah
Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul
Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam
pertama kali diterimanya dari ayahnya sendiri dan kemudian
dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia
berangkat ke Kuala, Aceh, untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru pada Syeikh Adur Rauf Singkel, seorang ulama sufi dan guru
tarekat Syattariah. Syeikh Abdur Rauf Singkel adalah ulama Aceh yang
berupaya mendamaikan ajaran martabat alam tujuh -yang dikenal di Aceh
sebagai paham wahdatul wujud atau wujudiyyah (panteisme dalam
Islam)-dengan paham sunah. Meskipun begitu Syeikh Abdur Rauf Singkel
tetap menolak paham wujudiyyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba. Ajaran inilah yang kemudian dibawa Syeikh Abdul Muhyi ke Jawa.
Masa studinya di Aceh dihabiskannya dalam tempo enam
tahun (1090 H/1669 M-1096 H/1675 M). Setelah itu bersama teman-teman
seperguruannya, ia dibawa oleh gurunya ke Baghdad dan kemudian ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan agama dan menunaikan
ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Syeikh Haji Abdul Muhyi
kembali ke Ampel. Setelah menikah, ia meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah barat bersama isteri dan orang tuanya. Mereka kemudian tiba di Darma, termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat muslim
setempat, ia menetap di sana selama tujuh tahun (1678-1685) untuk
mendidik masyarakat dengan ajaran Islam. Setelah itu ia kembali
mengembara dan sampai
ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia mentap di Pameungpeuk
slama 1 tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan
penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu. Pada tahun 1986
ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan
di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari setelah
pemakaman ayahnya, ia melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah
Batuwangi. Ia bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan
masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi.
Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun
(1686-1690). Pada masa empat tahun itu ia berjasa mengislamkan
penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu. Menurut cerita rakyat,
keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama karena
kekeramatannya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syeikh Haji
Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat ia memberikan pengajian untuk
mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam
lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat. Setelah empat tahun menetap di
Lebaksiuh, ia lebih memilih bermukim di dalam gua yang sekarang
dikenal sebagai Gua Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Menurut salah satu tradisi lisan, kehadirannya di Gua Safar Wadi itu adalah atas undangan
bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam
Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah gua tempat
pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syeikh Haji
Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga
ia dapat menguasai gua itu. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat
pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, di samping tempat ia memberikan pengajian agama dan mendidik kader-kader dakhwah Islam. Gua tersebut sangat sesuai baginya dan para
pengikutnya untuk melakukan semadi menurut ajaran tarekat Syattariah.
Sekarang gua tersebut banyak diziarahi orang sebagai tempat mendapatkan
“berkah”. Syeikh Haji Abdul Muhyi juga bertindak sebagai guru agama
Islam bagi keluarga bupati Sukapura, bupati Wiradadaha IV, R.
Subamanggala.
Setelah sekian lama bermukim dan mendidik para santrinya di dalam gua, ia dan para
pengikutnya berangkat menyebarkan agama Islam di kampung Bojong
(sekitar 6 km dari gua, sekarang lebih dikenal sebagai kampung Bengkok)
sambil sesekali kembali ke Gua Safar Wadi. Sekitar 2 km dari Bojong ia
mendirikan perkampungan baru yang disebut kampung Safar Wadi. Di
kampung itu ia mendirikan masjid (sekarang menjadi kompleks Masjid
Agung Pamijahan) sebagai tempat beribadah dan pusat
pendidikan Islam. Di samping masjid ia mendirikan rumah tinggalnya.
Sementara itu, para pengikutnya aktif menyebarkan agama Islam di daerah
Jawa Barat bagian selatan. Melalui para pengikutnya, namanya terkenal
ke berbagai penjuru jawa Barat.
Menurut tradisi lisan, Syeikh Maulana Mansur berulang kali datang ke
Pamijahan untuk berdialog dengan Syeikh Haji Abdul Muhyi. Syeikh
Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari
kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana
Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang juga putra dari
Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.
Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang
Syeikh Haji Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di
istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749) ketika itu
bahkan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah
Pamijahan dan menjadikannya daerah “perdikan”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak. Undangan
sultan Mataram itu tidak pernah dilaksanakannya, karena pada tahun
1151 H (1730 M) Syeikh Haji Abdul Muhyi meninggal dunia karena sakit di
Pamijahan. Berdasarkan keputusan sultan Mataram itulah, oleh
pemerintah kolonial Belanda, melalui keputusan residen Priangan,
Pamijahan sejak tahun 1899 dijadikan daerah “pasidkah”, daerah yang
dikuasai secara turun temurun dan bebas memungut zakat, pajak, dan pungutan lain untuk keperluan daerah itu sendiri.
Makam Syeikh Haji Abdul Muhyi yang terdapat di Pamijahan diurus dan dikuasai
oleh keturunannya. Makamnya itu ramai diziarai orang sampai sekarang
karena dikeramatkan. Sampai saat ini desa Pamijahan dipimpin oleh
seorang khalifah, jabatan yang diwariskan secara turun-temurun, yang
juga merangkap sebagai juru kunci makam dan mendapat penghasilan sedekah dari para peziarah.
Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan
lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya
oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh
tarekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah
dengan seorang putri Cirebon dan lama
menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji
Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan
bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu
berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.
Ajaran “martabat alam tujuh” ini berawal dari ajaran tasawuf
wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi.
Tidak begitu jelas kapan ajaran ini pertama kali masuk ke Indonesia.
Yang jelas, sebelum Syeikh Haji Abdul Muhyi, beberapa ulama sufi
Indonesia sudah ada yang menulis ajaran ini, seperti Hamzah Fansuri,
Syamsuddin as-Sumatrani (tokoh sufi, w. 1630), dan Abdur
Rauf Singkel, dengan variasi masing-masing. Oleh karena itu sangat
lemah untuk mengatakan bahwa karya Syeikh Haji Abdul Muhyi yang
berjudul Martabat Kang Pitutu ini sebagai karya orsinilnya, tetapi besar
kemungkinan berupa saduran dari karya yang sudah terdapat sebelumnya
dengan penafsiran tertentu darinya.
Menurut ajaran “martabat alam tujuh”, seperti yang tertuang
dalam Martabat kang Pitutu, wujud yang hakiki mempunyai tujuh martabat,
yaitu (1) Ahadiyyah, hakikat sejati Allah Swt., (2) Wahdah, hakikat
Muhammad Saw., (3) Wahidiyyah, hakikat Adam As., (4) alam arwah,
hakikat nyawa, (5) alam misal, hakikat segala bentuk, (6) alam ajsam,
hakikat tubuh, dan (7)
alam insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yaitu
Ahadiyyah, Allah Swt. Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syeikh
Haji Abdul Muhyi pertama-tama menggarisbawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba,
agar -sesuai dengan ajaran Syeikh Abdur Rauf Singkel-orang tidak
terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan. Ia mengatakan bahwa wujud
Tuhan itu qadim (azali dan abadi),
sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu,
yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah,
semuanya merupakan martabat-martabat “keesaan” Allah Swt. yang
tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai
wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam apa yang disebut
muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud
setelah Allah Swt. memfirmankan “kun” (jadilah).
Selanjutnya melalui martabat tujuh itu Syeikh Haji Abdul Muhyi
menjelaskan konsep insan kamil (manusia sempurna). Konsep ini merupakan
tujuan pencapaian aktivitas sufi yang hanya bisa diraih dengan
penyempurnaan martabat manusia agar sedekat-dekatnya “mirip” dengan
Allah Swt.
Melalui usaha Syeikh Haji Muhyiddin, ajaran martabat tujuh yang
dikembangkan Syeikh Abdul Muhyi tersebar luas di Jawa pada abad
ke-18.*** (Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ichtiar Baru
van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 5-8.)
WALIYULLAH GUNUNG PRING
Selasa, 13 Maret 2012
Diposting oleh
rico
di
22.18
4
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sekilas BABAD RAJA GALUH
ekilas Babad Rajagaluh
Konon dahulunya Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.
Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya adalah agama Hindu.
Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya adalah agama Hindu.
Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh ( Sunan Gunung Jati ) mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA artinya jaya dalam melaksanakan tugas.
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA artinya jaya dalam melaksanakan tugas.
Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hidayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh.
Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina.
Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.
Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh, begitupun sebaliknya.
Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah Lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibatnya tancapan tombak tersebut serta merta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyebranginya. Kejadian tersebut mengundang marahnya pihak Cirebon. Nyi Mas Gandasari cepat bertindak, dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut. Serta merta air sungaipun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.
Setelah kejadian itu syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, rombongan kemudian berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan sebagai tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekarang dikenal dengan hutan tenjo.
Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari, ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat, dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat melarikan Zimat Bokor Mas ( Kandaga Mas ) sebagai zimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.
Saat mendekati wilayah Rajagaluh Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia selamat luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran Kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame.
Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan Pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan.
Ketenaran Nyimas Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya ataupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana. Usai Nyi Ronggeng mempertunjukan kebolehannya. Tanpa diduga sebbelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng.Namun, nasehat Nyi Putri ternyata tidak digubrisnya diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajaknya Nyi Ronggeng masuk ke istana malahan beliau sampai mengajak tidur bersama.
Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat, Nyi Ronggengpun dapat mengabulkan ajakan beliau untuk tidur bersama asal dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu dapat memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.
Bertepatan dengan itu tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil.
Dil luar Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.
Dil luar Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.
Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya, banteng itupun ditebasnya sampai putus lehernya. Kendatipun kepalanya sudah terpisah namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta, namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah ciledug yang sekarang dikenal sebagai Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.
Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).
Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).
Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-saran Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok.
Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya, namun ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua.
Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.
Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.
WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.
WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.
Diposting oleh
rico
di
21.56
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
WIRID dan Kesaktian MUSLIM
Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Mataram, Lombok, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Ulama tarekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang.
Abdul Muhyi datang dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya dari ayahnya sendiri dan kemudian dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Kuala, Aceh, untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru pada Syeikh Adur Rauf Singkel, seorang ulama sufi dan guru tarekat Syattariah. Syeikh Abdur Rauf Singkel adalah ulama Aceh yang berupaya mendamaikan ajaran martabat alam tujuh -yang dikenal di Aceh sebagai paham wahdatul wujud atau wujudiyyah (panteisme dalam Islam)-dengan paham sunah. Meskipun begitu Syeikh Abdur Rauf Singkel tetap menolak paham wujudiyyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba. Ajaran inilah yang kemudian dibawa Syeikh Abdul Muhyi ke Jawa.Masa studinya di Aceh dihabiskannya dalam tempo enam tahun (1090 H/1669 M-1096 H/1675 M). Setelah itu bersama teman-teman seperguruannya, ia dibawa oleh gurunya ke Baghdad dan kemudian ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan agama dan menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Syeikh Haji Abdul Muhyi kembali ke Ampel. Setelah menikah, ia meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah barat bersama isteri dan orang tuanya. Mereka kemudian tiba di Darma, termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat muslim setempat, ia menetap di sana selama tujuh tahun (1678-1685) untuk mendidik masyarakat dengan ajaran Islam. Setelah itu ia kembali mengembara dan sampai ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia mentap di Pameungpeuk slama 1 tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu. Pada tahun 1986 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, ia melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi. Ia bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi. Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690). Pada masa empat tahun itu ia berjasa mengislamkan penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu. Menurut cerita rakyat, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama karena kekeramatannya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syeikh Haji Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia lebih memilih bermukim di dalam gua yang sekarang dikenal sebagai Gua Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Menurut salah satu tradisi lisan, kehadirannya di Gua Safar Wadi itu adalah atas undangan bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah gua tempat pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syeikh Haji Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga ia dapat menguasai gua itu. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, di samping tempat ia memberikan pengajian agama dan mendidik kader-kader dakhwah Islam. Gua tersebut sangat sesuai baginya dan para pengikutnya untuk melakukan semadi menurut ajaran tarekat Syattariah. Sekarang gua tersebut banyak diziarahi orang sebagai tempat mendapatkan “berkah”. Syeikh Haji Abdul Muhyi juga bertindak sebagai guru agama Islam bagi keluarga bupati Sukapura, bupati Wiradadaha IV, R. Subamanggala.
Setelah sekian lama bermukim dan mendidik para santrinya di dalam gua, ia dan para pengikutnya berangkat menyebarkan agama Islam di kampung Bojong (sekitar 6 km dari gua, sekarang lebih dikenal sebagai kampung Bengkok) sambil sesekali kembali ke Gua Safar Wadi. Sekitar 2 km dari Bojong ia mendirikan perkampungan baru yang disebut kampung Safar Wadi. Di kampung itu ia mendirikan masjid (sekarang menjadi kompleks Masjid Agung Pamijahan) sebagai tempat beribadah dan pusat pendidikan Islam. Di samping masjid ia mendirikan rumah tinggalnya. Sementara itu, para pengikutnya aktif menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat bagian selatan. Melalui para pengikutnya, namanya terkenal ke berbagai penjuru jawa Barat.
Menurut tradisi lisan, Syeikh Maulana Mansur berulang kali datang ke Pamijahan untuk berdialog dengan Syeikh Haji Abdul Muhyi. Syeikh Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang juga putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.
Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang Syeikh Haji Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749) ketika itu bahkan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah Pamijahan dan menjadikannya daerah “perdikan”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak. Undangan sultan Mataram itu tidak pernah dilaksanakannya, karena pada tahun 1151 H (1730 M) Syeikh Haji Abdul Muhyi meninggal dunia karena sakit di Pamijahan. Berdasarkan keputusan sultan Mataram itulah, oleh pemerintah kolonial Belanda, melalui keputusan residen Priangan, Pamijahan sejak tahun 1899 dijadikan daerah “pasidkah”, daerah yang dikuasai secara turun temurun dan bebas memungut zakat, pajak, dan pungutan lain untuk keperluan daerah itu sendiri.
Makam Syeikh Haji Abdul Muhyi yang terdapat di Pamijahan diurus dan dikuasai oleh keturunannya. Makamnya itu ramai diziarai orang sampai sekarang karena dikeramatkan. Sampai saat ini desa Pamijahan dipimpin oleh seorang khalifah, jabatan yang diwariskan secara turun-temurun, yang juga merangkap sebagai juru kunci makam dan mendapat penghasilan sedekah dari para peziarah.
Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh tarekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.
Ajaran “martabat alam tujuh” ini berawal dari ajaran tasawuf wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Tidak begitu jelas kapan ajaran ini pertama kali masuk ke Indonesia. Yang jelas, sebelum Syeikh Haji Abdul Muhyi, beberapa ulama sufi Indonesia sudah ada yang menulis ajaran ini, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani (tokoh sufi, w. 1630), dan Abdur Rauf Singkel, dengan variasi masing-masing. Oleh karena itu sangat lemah untuk mengatakan bahwa karya Syeikh Haji Abdul Muhyi yang berjudul Martabat Kang Pitutu ini sebagai karya orsinilnya, tetapi besar kemungkinan berupa saduran dari karya yang sudah terdapat sebelumnya dengan penafsiran tertentu darinya.
Menurut ajaran “martabat alam tujuh”, seperti yang tertuang dalam Martabat kang Pitutu, wujud yang hakiki mempunyai tujuh martabat, yaitu (1) Ahadiyyah, hakikat sejati Allah Swt., (2) Wahdah, hakikat Muhammad Saw., (3) Wahidiyyah, hakikat Adam As., (4) alam arwah, hakikat nyawa, (5) alam misal, hakikat segala bentuk, (6) alam ajsam, hakikat tubuh, dan (7) alam insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yaitu Ahadiyyah, Allah Swt. Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syeikh Haji Abdul Muhyi pertama-tama menggarisbawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba, agar -sesuai dengan ajaran Syeikh Abdur Rauf Singkel-orang tidak terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan. Ia mengatakan bahwa wujud Tuhan itu qadim (azali dan abadi), sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu, yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah, semuanya merupakan martabat-martabat “keesaan” Allah Swt. yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam apa yang disebut muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud setelah Allah Swt. memfirmankan “kun” (jadilah).
Selanjutnya melalui martabat tujuh itu Syeikh Haji Abdul Muhyi menjelaskan konsep insan kamil (manusia sempurna). Konsep ini merupakan tujuan pencapaian aktivitas sufi yang hanya bisa diraih dengan penyempurnaan martabat manusia agar sedekat-dekatnya “mirip” dengan Allah Swt.
Melalui usaha Syeikh Haji Muhyiddin, ajaran martabat tujuh yang dikembangkan Syeikh Abdul Muhyi tersebar luas di Jawa pada abad ke-18.*** (Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 5-8.)
Sumber Kesaktian Muslim dan Sejarah Walisongo
WIRID
Pendapat umum ialah berzikir dengan menyebut Asma Allah diiringi dalam hati dalam mengingat-Nya untuk doa maupun berzikir untuk menambah keimanan dan meningkatkan amal dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya.
KESAKTIAN
Suatu sebutan umum yang berkaitan dengan kehebatan seseorang, yang menyangkut kepemilikan kekuatan gaib yang diluar akal dan logika, bertentangan dengan hukum alam. Pada umumnya istilah itu berkaitan dengan kehebatan seperti paranormal, kebal bacok, linuwih, kedigjayaan dan ajian - ajian macam2.
KESAKTIAN SEJATI
Muslim harus bersandarkan penuh akan nasibnya, keuntungannya dan keselamatannya kepada Allah SWT, segala sesuatu untuk memperoleh keselamatan diri harus kita meminta kepada-Nya dengan Jalur yang BENAR, yaitu yang diajarkan oleh Rosulullah SAW, jangan selain dari itu.
Jika kita berlindung kepada-Nya dan berdoa agar Allah SWT menolong, menjaga, memberikan keselamatan, bukankah justru akan lebih luas tanpa khusus belajar Ilmu Kebal, Ilmu Peredam Marah, Ilmu Pelet, Ilmu macem2 yang laen. Nah gimana caranya kita dapat pertolongan Allah?
BENTENG MUSLIM
Muslim tentu harus memiliki benteng penjagaan dari segala macam godaan dan ujian didalam hidup ini, dan seringkali itu menyangkut semua hal yang diluar kemampuan kita sebagai manusia biasa. Ikhtiar dan Doa maksimal adalah sarana utama, dalam melalui jalur kehidupan sehari-hari dimana kita beraktifitas.
Karena itu muslim kudu punya BENTENG kesaktian seperti :
1. Iman yang KUAT
2. Hati yang bertawakal
3. Hati yang senantiasa ZIKIR
Ketiga ini gak sekedar ucapan teori, ketiga ini bukan suatu hal yang gampang dan mudah, ketiga ini bukan sebuah nilai anjuran dalam isi ceramah - ceramah yang hanya cuma disebut only, tapi cara bagaimana mencapainya malah kita kadang jarang di bahas lebih lanjut.
Contoh :
‘…Ayo sodara2 seiman mari kita - tingkatkan Iman..’
‘…Kita harus - yakin dan percaya - Allah akan menolong kita yang kesusahan ‘
‘…Dengan landasan Taqwa mari kita bangun bangsa..’
Ketiga ungkapan umum sering terdengar, tapi sekedar disampaikan, namun hakikat kekuatan apa yang harus kita miliki sebagai muslim jarang dikupas, jarang diberikan kemasyarakat awam, keluarga kita, atau sodara kita. Jadi ketiganya hanya sekedar dianggukan diiyakan namun hambar pelaksanaan, karena beberapa waktu kemudian semua kita dihanyutkan gelombang duniawi dengan semua atributnya yang membuat ingatan pun melayang, gak ingat lagi tiga ungkapan diatas karena mudah dilupakan karena gak berbekas, karena sering didengar setiap minggu sekali atau setiap pagi.
JURUS SATU - KENALI ALLAH SWT
Kenali Allah dimana Dia menciptakan kita, memberikan kesehatan, memberikan anak yang lucu, memberikan kita Ayah Ibu tercinta, memberikan kita udara yang bisa dihirup dimana komposisi kimia udara diperhitungkan cermat, canggih, sangat pas komposisi, ukuran2 zatnya sehingga kita bisa bernafas sama halnya dengan Air yg kita minum, juga paru2, lidah, banyangkan rasakan waktu kita mengecap makanan, kunyah pelan2, Insya Allah sensasinya adalah sensasi Kemaha Besaran Allah ada di hati kita, zikirlah dalam segala kegiatan, di kendaraan perhatikan muka-muka orang yang memiliki perbedaan, dan ini bermilyar-milyar orang bahkan semua manusia yang pernah hidup di dunia, mereka memiliki perbedaan, yaitu beda sifatnya, beda idungnya, beda rejekinya, beda keahliannya, juga gimana kita saat ngendarain motor, mobil rasakan juga gimana hubungan otak, mata, otot, sinyal2 otak, bentuk badan, yang akhirnya kita bisa enak mengendarai kendaraan, gimana manusia diberikan Ilmunya oleh Allah sehingga bisa buat kendaraan yang kita pakai atau kita tumpangi, dll.
JURUS DUA - BERSYUKUR DAN IBADAH
Rosulullah SAW tahajud sampe bengkak kaki, alasan beliau adalah karena beliau BERSYUKUR, banyak perintah ibadah dalam Qur’an yang dikorelasikan dengan BERSYUKUR.
AN NAML : 40
“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”
AL MU’MINUUN : 78
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati.
Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
Al MU’MIN :61
“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. ”
Jika kita kenal Allah SWT, ingat terus dalam hati bawa perasaan, dan fikirkan dalam kehidupan sehari-hari semuanya disekeliling kita, maka NYATA sekali, Allah yang paling BESAR jasanya dalam kehidupan kita. Disini landasan seorang Muslim beribadah sekuat-kuatnya demi mengungkapkan rasa SYUKUR tadi, menuruti Perintah-Nya, dan tanpa kenal bosan berdoa, meminta ampunan atas semua dosa yang dilakukan.
Tanyakan pada diri kita masing-masing, jika ada seseorang yang berjasa besar dengan hidup kita pasti kita akan berterima kasih, menganggap teman sejatilah, menjanjikannya balas jasa, sering mengelu-elukannya, sering teringat jasa baiknya yang begituuuuuu berkesan.
Kemudian kedua orang tua kita, kita cinta sekali, karena jasa keduanya, karena mereka sangat sayang kepada kita, semua akan kita lalukan demi menyenangkan hati orang tua.
Kemudian begitu banyak cerita-cerita orang, gimana diantara kisah mereka adalah pengorbanan terhadap kawannya, sodaranya, orang tuanya karena cinta, cinta itu berdasarkan jasa, karena jasa yang besar haruslah berdasarkan hati yang tulus, tu emang kehidupan kisah ini dapat kita jumpai dimanapun baik teman, rekan, bahkan orang yang baru kenal, baca koran dll
Nah disini mari kita RENUNGI dengan apa yang realitanya terjadi, SIAPA yang BERJASA NOMOR SATU pada kehidupan kita, dia adalah Allah SWT. Dimana dia yang menciptakan semuanya, baik itu orang, sarana kehidupan, kejadian yang berjalan semuanya HARUS dengan IJIN-NYA, bahkan gak ada sesuatu pun yang terjadi, berada PASTILAH ALLAH SWT Berada dibalik SEEEEMUANYA.
Disitu Insya Allah kita akan enteng tahajud, tilawah, sambil diiringi dengan zikir harian sesuai petunjuk Rosulullah SAW dengan memikirkan tanda2 kebesaran-Nya, karena zikir, fikir, tidak bisa di stop, harus dilakukan secara rutin, jadi kehidupan kita gak sia2, senantiasa diisi dengan Ibadah secara maksimal baik dalam ritual, maupun dalam bersosial, dengan landasan karena Allah SWT.
Setiap hari kita akan Tahajud, mengungkapkan rasa SYUKUR, Sholat 5 Waktu, karena Insya Allah kita sebagai mahluk yang terhormat, memiliki rasa tahu diri, rasa berterima kasih, rasa ingin melakukan sebesar2nya pengabdian kepada Allah SWT kalo bisa disetiap waktu, detik, dengan tujuan meng-IKHLAS kan ketaatan hanya kepada-Nya.
Jika kita gak berssyukur, mahluk macam apa kita ya ?, dengan sesama kita bisa membalas jasa, namun dengan Allah SWT, membangkang, durhaka, CUEK dengan urusan Umat, ngasal jalanin Hidup, Berdakwah masih ngitungin sisi2 komersil, Ego masih di gede2in, kesejahteraan pribadi golongan masih diprioritasin, Gak berani begini gak berani begitu karena terlalu ngitung, gak yakin dengan Semuanya gak lepas dari kehendak ILAHI, Ibadah sengebut2nya, Gak peduli dengan umat Islam, gak peduli dengan pengajian atau hal2 yang bernuansa ke-Islaman,
TELADAN AMALAN ORANG2 YANG BERSYUKUR
Profil AMALIAH mereka yang bersyukur, Para Rosulullah SAW dan Shahabat.
ROSULULLAH SAW
Rosulullah SAW dikenal dengan orang yang paling DERMAWAN, tidak pernah menolak jika di mintai orang, bahkan shahabat menilai beliau, sebagai orang yang BERSEDEKAH sebagai orang yang seakan2 gak pernah TAKUT MISKIN.
Kita kadang meng-claim :
Ikutii Sunnah Rosuuuuuull……Di jawab dengan takbir : Allaaahu Akbar !!!!
Haru, sedih, bangga saat itu, tapi apakah kita sudah pernah mengikuti Sunnah Rosul, Sifat BELIAU yang diatas, walaupun cuma sekedar sejam saja ?, baik Partai Islam yang besar2 dan Mapan, Organisasi Massa Islam yang memiliki dana cukup, Ulama2 yang berlimpah Harta ?, demikian juga dengan kita sebagai perseorangan, jangan2 kita mikirin umat Islam aja gak pernah, terlampau sibuk, terlampau tawakal dengan kantor dan jumlah gaji bulanan.
Yaa Allah jadikan kita semua sebagai golongan Hamba-Mu yang bersyukur…Yaa Allah ampuni semua dosa kesalahan kami kaum muslimin….Yaa Allah berilah Petunjuk untuk di Jalan yang Benar, bagi kami semua muslimin. Wallaahu A’lam.
SEMOGA BERMANFAAT !! WASSALAM
saya bukan apa-apa tapi saya berani mengingatkan para Kyai manapun agar tetap menjadi kyai yang benar-benar ulama bukan kyai yang rebutan kursi dan umat ditinggalkan INGAT !!! perjuangan belum selesai. dan jangan merasa paling kyai dan paling suci dengan bersurban dan memandang rendah UMAT yang tidak bersorban bahkan KEPADA UMAT yang tidak punya uang.
Karena sesungguhnya ketaqwaan kepada Allah SWT dan kecintaan kepada rasullah yang menuju Ridlo Allah SWT
(Mas EDI atau Gus Achmad al chudlory.adalah rakyat jelata yang bernasab dari Raden Sumadihardja Atmadja sampai mbah syarif hidayatullah/Sunan gunung Jati)
Achmad/mas edi adalah mantu kiai sepuh garut alm. KH Harun Al rasyid (112 th) , PP AS SALAM,Keresek,Kec.Cibatu,Kab.Garut saat ini mas edi berdomisili di Tas 3 blok M wonoayu-Sidoarjo
silsilah asli keluarga kami ada di kediaman kami, hubungi atau sms dan kami berharap kami ketemu dan silaturahmi membentuk komunikasi keluarga dari barat ke timur menyatukan hati dan doa untuk negeri dan berdakwah ditengah masyarakat tidak perlu menjadi terkenal tapi menjadi khodimul ummah
saat ini kami sedang membentuk RABITHAH AZMATKHAN cabang Sidoarjo dan Surabaya dan sedang menginventarisir nama para ulama yang bernasab sampai Ke Walisanga baik dari jalur perempuan dan laki-laki. bila ada info kirim ke email kami : sayyidachmad@gmail.com
RABITHAH AZMATKHAN SUDAH TERBENTUK SEJAK TAHUN 2005 beranggotakan Kyai atau ulama atau khalayak umum (www.azmatkhanalhusaini.com) sebuah komunitas dari sebuah keluarga untuk umat
PERIODE ( Masa Bakti 2012 - 2020
Dewan Pendiri
1. KH. A. Ridho bin Shonhaji (Pamekasan Madura).
2. KH. Ali Badri Masyhuri (Pasuruan Jawa Timur).
3. KH. MH. Mutawakkil Alallah (Probolinggo Jawa Timur).
4. KH. MH. Saiful Islam Saifourrijal (Probolinggo Jawa Timur).
5. KH. MH. Abdul Bar Saifourrijal (Probolinggo Jawa Timur.
6. KH. Tb. Fathul Azhim Khathib (Serang Banten).
7. KH. DR. Burhanul Arifin (Malang Jawa Timur).
8. KH. Hasan bin Abu Bakar (Cirebon Jawa Barat).
9. KH. Isma’il Muhtadi (Cirebon Jawa Barat).
10. KH. Fawaid As’ad (Situbondo Jawa Timur).
11. KH. Tb. Ahmad Zain (Sukabumi Jawa Barat).
12. KH. Mas’udi Busyiri, MA (Malang Jawa Timur).
13. KH. Tb. Saifuddin Abdullah (Serang Banten).
14. KH. Ahmad bin Hasan (Cirebon Jawa Barat).
15. Sultan Raja Emiruddin (Cirebon Jawa Barat).
16. Sultan Raja Abdulghani Natadiningrat (Cirebon Jawa Barat).
17. Pangeran Nur Hidayat Purbaningrat (Cirebon Jawa Barat).
18. H. Tb. Dedi Zainuddin (serang Banten).
Dewan Kehormatan:
1. KH. MH. Mutawakkil Alallah (Probolinggo Jawa Timur).
2. KH. A. Ridho bin Shonhaji (Pamekasan Madura).
3. KH. MH. Saiful Islam Saifourrijal (Probolinggo Jawa Timur).
4. KH. MH. Abdul Bar Saifourrijal (Probolinggo Jawa Timur.
5. KH. Tb. Fathul Azhim Khathib (Serang Banten).
6. KH. DR. Burhanul Arifin (Malang Jawa Timur).
7. KH. Hasan bin Abu Bakar (Cirebon Jawa Barat).
8. KH. Isma’il Muhtadi (Cirebon Jawa Barat).
9. KH. Fawaid As’ad (Situbondo Jawa Timur).
10. KH. Tb. Ahmad Zain (Sukabumi Jawa Barat).
11. KH. Mas’udi Busyiri, MA (Malang Jawa Timur).
12. KH. Tb. Saifuddin Abdullah (Serang Banten).
13. KH. Ahmad bin Hasan (Cirebon Jawa Barat).
14. Sultan Raja Emiruddin (Cirebon Jawa Barat).
15. Sultan Raja Abdulghani Natadiningrat (Cirebon Jawa Barat).
16. Pangeran Nur Hidayat Purbaningrat (Cirebon Jawa Barat).
17. H. Tb. Dedi Zainuddin (Serang Banten).
18. KH. Alawi Muhammad (Sambapng Madura).
19. KH. Mushthofa Agil Siraj (Cirebon Jawa Barat).
20. KH. Abdul Mu’iz Tirmidzi (Bondowoso Jawa Timur).
21. KH. Muhammad Tsabit (Sumenep Madura).
22. H. Tb. Edi Kusnadi.
23. KH. Abdul Gofur (Bondowoso)
Dewan Pembina (Mustasyar):
1. KH. Ali Badri Masyhuri (Ketua).
2. KH. DR. Burhanul Arifin.
3. KH. MH. Saiful Islam.
4. KH. Ahmad Hasan
5. KH. Mas Luqman Hakim
Dewan Pengawas:
1. KH. Tb. Fathul Azhim Khathib.
2. KH. Mas’udi Busyiri, Lc, MA.
3. KH. Mas Saiful Muluk
4. KH. Mas Yusuf Muhajir
5. KH. Mahrus Abdul Malik
Dewan Pengurus Harian
Ketua Umum : KH. DR. Muhammad Dhiyauddin
Sekretaris Jenderal : KH. Maksum Tirmidzi
Bendahara Umum : K. Ali Khoiron
Ketua-ketua Bidang
Bidang Pembinaan : KH. DR. Rohimuddin Nawawi
Bidang Kegiatan Umum : KH. Ali Zainal Arifin
Bidang Penggalangan Dana : KH. Thohari
Kepengurusan pendataan wilayah Sidoarjo :
1. Gus Zulfikar bin ,putra Kyai Rois Bangil,juara QORI , Sidoarjo
(031-70963390)
2. Tubagus Edi Sudjak atmadja (Gus Achmad khudlory al muhdor) (mantu KH Harun
Al Rasyid,PP As Salam dan PP Keresek Cibatu Garut) di perum TAS 3 wonoayu
Kepengurusan Surabaya
1. Gus Arifin , Surabaya
2. Mas Yusuf Muhajir
Kepengurusan Jombang
1. Gus Khoiron, Tambak Bersa Jombang
Kami tersus berusaha memngumpulkan menginventaris para keturunana ahlul bait demi iuntuk menyatukan doa untuk negeri Indonesia
DAN MOHON BAGI YANG TELAH MENYALIN BLOGSPOT INI KAMI BUKANNYA MENGAKU-NGAKU KETURUNAN WALISANGA AKAN TETAPI BERDASARKAN DOKUMEN OTENTIK YANG DITINGGALKAN OLEH LELUHUR KAMI, YANG MENYATAKAN BAHWA KAMI MERUPAKAN KETURUNAN LANGSUNG DARI JALUR LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. KAMI BERTUJUAN MELURUSKAN , mencari DAN MENJALIN SILATURAHMI KELUARGA KAMI.
BESERTA BEBERAPA STRUKTUR KEPENGURUSAN WILAYAH MAUPUN CABANG DI TIAP-TIAP KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA
PRINSIP DAN DASAR
PENDIRIAN ROBITHOH AZMATKHAN
Mengingat keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan banyak tersebar di Indonesia melalui sebagian besar anggota Walisongo, sedangkan kebanyakan mereka tidak saling mengenal keluarga dari jalur lain, maka didirikanlah Robithoh Azmatkhan pada tahun 2005 di Pesantren Tattangoh Pamekasan dan dikukuhkan pada hari ahad tanggal 16 syawal 1428 / 28 Oktober 2007 di Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo Jawa Timur.
Robithoh Azmatkhan didirikan untuk tujuan-tujuan penting sebagai berikut:
1. mengamalkan sabda Rasulullah SAW:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلكِنَّ الْوَاصِلَ إِذَا انْقَطَعَ رَحِمُهُ وَصَلَهُ
“Bukanlah orang menyambung keluarga itu yang saling membalas, melainkah orang yang apabila ada keluarga yang terputus maka iapun menyambung keluarga itu.”
2. Memanfaatkan hubungan keluarga untuk mempererat hubungan para Kiai dan tokoh Indonesia yang kebanyakan masih keturunan Walisongo. Harapannya, kebersatuan mereka akan membawa kebaikan untuk ummat.
3. Mendata seluruh keluarga keturunan Azmatkhan untuk diketahui kondisi agama dan ekonominya, untuk kemudian diadakan pembinaan pada keluarga yang kurang pengetahuan agamanya dan lemah ekonominya, karena tidak sedikit keluarga yang menyimpan silsilah dengan rapi tapi agama dan ekonominya memperihatinkan.
4. Mensosialisasikan ajaran dan manhaj leluhur, khususnya kepada generasi muda keluarga keturunan Azmatkhan, agar meneladani leluhur, khususnya ajaran dan manhaj Walisongo.PENDIRIAN ROBITHOH AZMATKHAN
Mengingat keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan banyak tersebar di Indonesia melalui sebagian besar anggota Walisongo, sedangkan kebanyakan mereka tidak saling mengenal keluarga dari jalur lain, maka didirikanlah Robithoh Azmatkhan pada tahun 2005 di Pesantren Tattangoh Pamekasan dan dikukuhkan pada hari ahad tanggal 16 syawal 1428 / 28 Oktober 2007 di Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo Jawa Timur.
Robithoh Azmatkhan didirikan untuk tujuan-tujuan penting sebagai berikut:
1. mengamalkan sabda Rasulullah SAW:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلكِنَّ الْوَاصِلَ إِذَا انْقَطَعَ رَحِمُهُ وَصَلَهُ
“Bukanlah orang menyambung keluarga itu yang saling membalas, melainkah orang yang apabila ada keluarga yang terputus maka iapun menyambung keluarga itu.”
2. Memanfaatkan hubungan keluarga untuk mempererat hubungan para Kiai dan tokoh Indonesia yang kebanyakan masih keturunan Walisongo. Harapannya, kebersatuan mereka akan membawa kebaikan untuk ummat.
3. Mendata seluruh keluarga keturunan Azmatkhan untuk diketahui kondisi agama dan ekonominya, untuk kemudian diadakan pembinaan pada keluarga yang kurang pengetahuan agamanya dan lemah ekonominya, karena tidak sedikit keluarga yang menyimpan silsilah dengan rapi tapi agama dan ekonominya memperihatinkan.
W A L I S O N G O
Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Arti Walisongo
Masjid Agung Demak, diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya para wali yang paling awal.
Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo ini adalah sebuah Majelis Dakwah yang pertama kali didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) pada tahun 1404 M/808 H. Saat itu Majelis Dakwah Walisongo beranggotakan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik); Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang); Maulana Ahmad Jumadil Kubro (Sunan Kubrawi,); Maulana Muhammad Al-Maghrabi Sunan Maghribi); Maulana Malik Isra'il (Raja Champa Pertama; Maulana Muhammad Ali Akbar; Maulana Hasanuddin;Maulana 'Aliyuddin dan Syekh Subakir.
Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.
Nama-nama Walisongo Menurut Periode Waktunya
Menurut Catatan dari Al-Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar dan As-Sayyid Bahruddin Ba'alawi Al-Husaini, disebutkan bahwa:
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 – 1435 M. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, [wafat 1419 M]
2. Maulana Ishaq,
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro,
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
5. Maulana Malik Isra'il,[wafat 1435 M]
6. Maulana Muhammad Ali Akbar,[wafat 1435 M]
7. Maulana Hasanuddin,
8. Maulana 'Aliyuddin,
9. Syekh Subakir, atau Syaikh Muhammad Al-Baqir
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1435 - 1463 M, terdiri dari
1. Sunan Ampel, [tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim]
2. Maulana Ishaq, [wafat 1463]
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro,
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
5. Sunan Kudus, [tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isra’il]
6. Sunan Gunung Jati, [tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar]
7. Maulana Hasanuddin, [wafat 1462 M]
8. Maulana 'Aliyuddin, [wafat 1462 M]
9. Syekh Subakir, [wafat 1463 M]
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 - 1466 M, terdiri dari
1. Sunan Ampel,
2. Sunan Giri, [tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq]
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, [w.1465 M]
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, [w.1465 M]
5. Sunan Kudus, 6. Sunan Gunung Jati,
7. Sunan Bonang, [tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin]
8. Sunan Derajat, [tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin]
9. Sunan Kalijaga, [tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir]
Wali Songo Angkatan ke-4, 1466 - 1513 M, terdiri dari
1. Sunan Ampel, [w.1481]
2. Sunan Giri, [w.1505]
3. Raden Fattah, [pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra]
4. Fathullah Khan [Falatehan], [pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi]
5. Sunan Kudus,
6. Sunan Gunung Jati,
7. Sunan Bonang,
8. Sunan Derajat,
9. Sunan Kalijaga, [wafat tahun 1513]
Wali Songo Angkatan ke-5, [1513 - 1533 M], terdiri dari
1. Syaikh Siti Jenar, wafat tahun 1517] [tahun 1481 Menggantikan Sunan Ampel]
2. Raden Faqih Sunan Ampel II [ Tahun 1505 menggantikan kakak iparnya, yaitu Sunan Giri]
3. Raden Fattah, [wafat tahun 1518]
4. Fathullah Khan [Falatehan],
5. Sunan Kudus, [wafat 1550]
6. Sunan Gunung Jati,
7. Sunan Bonang, [w.1525 M]
8. Sunan Derajat, [w. 1533 M]
9. Sunan Muria, [tahun 1513 menggantikan ayahnya yaitu Sunan Kalijaga]
Wali Songo Angkatan ke-6, [1533 - 1546 M], terdiri dari:
1. Syaikh Abdul Qahhar [Sunan Sedayu], [Tahun 1517 menggantikan ayahnya, yaitu Syaikh Siti Jenar]
2. Raden Zainal Abidin Sunan Demak [Tahun 1540 menggantikan kakaknya, yaitu Raden Faqih Sunan Ampel II)
3. Sultan Trenggana [tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah]
4. Fathullah Khan [Falatehan], [wafat tahun 1573]
5. Sayyid Amir Hasan, [tahun 1550 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Kudus]
6. Sunan Gunung Jati, [w.1569]
7. Raden Husamuddin Sunan Lamongan, [Tahun 1525 menggantikan kakaknya, yaitu Sunan Bonang]
8. Sunan Pakuan, [Tahun 1533 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Derajat]
9. Sunan Muria, [w. 1551]
Wali Songo Angkatan ke-7, 1546- 1591 M, terdiri dari
1. Syaikh Abdul Qahhar [Sunan Sedayu], [wafat 1599]
2. Sunan Prapen, [tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak]
3. Sunan Prawoto, [ tahun 1546 Menggantikan ayahnya Sultan Trenggana]
4. Maulana Yusuf, [pada tahun 1573 menggantikan pamannya yaitu Fathullah Khan [Falatehan], Maulana Yusuf adalah cucu Sunan Gunung Jati]
5. Sayyid Amir Hasan,
6. Maulana Hasanuddin, [pada tahun 1569 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Gunung Jati]
7. Sunan Mojoagung [tahun 1570 Menggantikan Sunan Lamongan]
8. Sunan Cendana, [tahun 1570 menggantikan kakeknya, yaitu Sunan Pakuan]
9. Sayyid Shaleh [Panembahan Pekaos], [tahun 1551 menggantikan kakek dari ibunya, yaitu Sunan Muria. Sedangkan Sayyid Shaleh adalah Shaleh bin Amir Hasan bin Sunan Kudus]
Wali Songo Angkatan ke-8, 1592- 1650 M, terdiri dari
1. Syaikh Abdul Qadir [Sunan Magelang], asal Magelang, [wafat 1599], menggantikan Sunan Sedayu
2. Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi, [1650 menggantikan Gurunya yaitu Sunan Prapen]
3. Sultan Hadiwijaya [Joko Tingkir], [tahun 1549 Menggantikan Sultan Prawoto]
4. Maulana Yusuf, asal Cirebon
5. Sayyid Amir Hasan, asal Kudus
6. Maulana Hasanuddin, asal Cirebon
7. Syaikh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani, [tahun 1650 Menggantikan Sunan Mojo Agung]
8. Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri, [tahun 1650 menggantikan Sunan Cendana] 9. Sayyid Shaleh [Panembahan Pekaos],
Wali Songo Angkatan ke 9, 1650 – 1750M, terdiri dari:
1. Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan [tahun 1750 menggantikan Sunan Magelang]
2. Syaikh Shihabuddin Al-Jawi [tahun 1749 menggantikan Baba Daud Ar-Rumi]
3. Sayyid Yusuf Anggawi [Raden Pratanu Madura], Sumenep Madura [Menggantikan, yaitu Sultan Hadiwijaya / Joko Tingkir]
4. Syaikh Haji Abdur Rauf Al-Bantani, [tahun 1750 Menggantikan Maulana Yusuf, asal Cirebon ]
5. Syaikh Nawawi Al-Bantani. [1740 menggantikan Gurunya, yaitu Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus]
6. Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir [ tahun 1750 menggantikan buyutnya yaitu Maulana Hasanuddin]
7. Sultan Abulmu'ali Ahmad [Tahun 1750 menggantikan Syaikh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani]
8. Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri
9. Sayyid Ahmad Baidhawi Azmatkhan [tahun 1750 menggantikan ayahnya, Sayyid Shalih Panembahan Pekaos]
Wali Songo Angkatan ke-10, 1751 – 1897
1. Pangeran Diponegoro [ menggantikan gurunya, yaitu: Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan] 2. Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, [menggantikan Syaikh Shihabuddin Al-Jawi]
3. Kyai Mojo, [Menggantikan Sayyid Yusuf Anggawi [Raden Pratanu Madura]
4. Kyai Kasan Besari, [Menggantikan Syaikh Haji Abdur Rauf Al-Bantani]
5. Syaikh Nawawi Al-Bantani. …
6. Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fattah, [menggantikan kakeknya, yaitu Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir]
7. Pangeran Sadeli, [Menggantikan kakeknya yaitu: Sultan Abulmu'ali Ahmad]
8. Sayyid Abdul Wahid Azmatkhan, Sumenep, Madura [Menggantikan Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri]
9. Sayyid Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek), Bangkalan, Madura, [Menggantikan kakeknya, yaitu: Sayyid Ahmad Baidhawi Azmatkhan]
Tahun 1830 – 1900 [Majelis Dakwah Wali Songo dibekukan oleh Kolonial Belanda, dan banyak para ulama’ keturunan Wali Songo yang dipenjara dan dibunuh]
Dari nama para Wali Songo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
• Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
• Sunan Ampel atau Raden Rahmat
• Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
• Sunan Drajat atau Raden Qasim
• Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq
• Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
• Sunan Kalijaga atau Raden Said
• Sunan Muria atau Raden Umar Said
• Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah juga karena pernikahan atau dalam hubungan Mursyid-Murid.
Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo . Nasab As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim Nasab Maulana Malik Ibrahim menurut catatan Dari As-Sayyid Bahruddin Ba'alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume (jilid). Dalam Catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-Imam Isa bin Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti Nabi Muhammad Rasulullah
Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy.[1] Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal.
Isteri Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri bernama: 1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah 2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad 3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf. Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan Kudus].
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad, menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir Dari Dinasti Ming. Nasab lengkapnya sebagai berikut: Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo, berputera: Sunan Bonang,Siti Syari’ah,Sunan Derajat,Sunan Sedayu,Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera: Dewi Murtasiyah,Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan Lamongan,Raden Zainal Abidin (Sunan Demak),Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2. Makam Sunan Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang atau Buku Bonang. Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525.
Sunan Drajat
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat wafat pada 1522.
Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550. Keturunannya yang menjadi ulama' besar adalah As-Sayyid KH.Muhammad Kholil Azmatkhan Al-Husaini Bangkalan, dan generasi yang masih hidup adalah As-Sayyid KH.Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini (Sekarang menjadi Mursyid Thariqah Wali Songo). Thariqah Wali Songo terdiri dari 9 Thariqah, yaitu: Thariqah 'Alawiyyah, Thariqah Qadiriyyah, Thariqah Naqsabandiyyah, Thariqah Syadziliyyah, Thariqah Sanusiyyah, Thariqah Maulawiyyah, Thariqah Nur Muhammadiyyah, Thariqah Khidiriyyah dan Thariqah Ahadiyyah.
Sunan Giri
Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.
Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri.
Sunan Muria
Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan Kudus.
Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.
Tokoh pendahulu Walisongo
Syekh Jumadil Qubro
Syekh Jumadil Qubro adalah Maulana Ahmad Jumadil Kubra bin Husain Jamaluddin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Syekh Jumadil Qubro adalah putra Husain Jamaluddin dari isterinya yang bernama Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II/ Putri Kelantan Tua). Tokoh ini sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa.
Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.[2] [3]
Teori keturunan Hadramaut
Walaupun masih ada pendapat yang menyebut Walisongo adalah keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh daripada merupakan asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum Sayyid atau Syarif. Beberapa argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam bukunya Thariqah Menuju Kebahagiaan, mendukung bahwa Walisongo adalah keturunan Hadramaut (Yaman):
• L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l'archipel Indien (1886)[4] mengatakan:
”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid Syarif) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”
• van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204):
”Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Orang-orang Arab Hadramawt (Hadramaut) membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya."
Pernyataan van den Berg spesifik menyebut abad ke-15, yang merupakan abad spesifik kedatangan atau kelahiran sebagian besar Walisongo di pulau Jawa. Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga Hadramaut lainnya.
• Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.
• Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi'i bercorak tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Kitab fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi'i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.
• Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti Raden Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath ulama besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.
Sumber tertulis tentang Walisongo
1. Terdapat beberapa sumber tertulis masyarakat Jawa tentang Walisongo, antara lain Serat Walisanga karya Ranggawarsita pada abad ke-19, Kitab Walisongo karya Sunan Dalem (Sunan Giri II) yang merupakan anak dari Sunan Giri, dan juga diceritakan cukup banyak dalam Babad Tanah Jawi.
2. Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
3. Dalam penulisan sejarah para keturunan Bani Alawi seperti al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran, 'Umdat al-Talib oleh al-Dawudi, dan Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur; juga terdapat pembahasan mengenai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Sunan Gresik.
Diposting oleh
rico
di
21.08
7
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Padepokan dan Pesantren Pajajaran Suka Raja Tasikmalaya
Rabu, 22 Februari 2012
Diposting oleh
rico
di
22.35
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Selasa, 31 Januari 2012
MISTERY 7 TOMBAK Ibu Ratu Pantai Selatan
Menyelusuri
sejarah secara detail memang sangatlah sulit untuk kita kaji, disamping
perbedaan zaman yang kita alami saat ini jauh tertinggal dengan zaman
mereka, namun secara maknawi, tidak semua sejarah musnah begitu saja
dan tanpa bisa dibuktikan, karena fakta disini akan mengupasnya.
Bercerita tentang tokoh yang satu ini sampai kapanpun terus menjadi
prokontra kalayak rame, suatu mithos dan kenyataan sejarah, akan terus
mewarnai pemahaman orang-orang yang belum paham sejatinya siapa Ibu
Ratu Pantai Selatan, sesungguhnya. Mereka saling membenarkan
pendapatnya masing-masing dengan mengatas namakan keluarga atau
silsilah garis keturunannya. Wal hasil, dalam pemahaman sesungguhnya
mereka masih dalam tarap katanya, inilah kisah selengkapnya yang
disarikan dalam kitan kuno. Terboekanja Puelo Djawa / terbukanya pulau
Jawa, karangan Habib Syeikh Muhammad Idrus, ditulis pada tahun 1845,
yang dinukil dari Nabiyullah Hidir AS. Kisah perempuan yang semasa
hidupnya ngahyang / raib, bermula dari Istri Nabiyullah Sulaiman AS,
yang bernama Ratu Bilqis, setelah suaminya wafat kehadirat Allah SWT.
Beliau ngahyang karena cintanya yang begitu besar terhadap suaminya,
namun Allah berkehendak lain, beliau akhirnya ditempatkan menjadi ratu
laut selatan dibawah perintah Nabiyullah Hidir AS, yang mengepalai
seluruh Abdul Jumud, Ahmar, Abyad, Qorin dan Junu, di wilayah Timur
Tengah. Juga Nyimas Ayu Nilam, atau Kencana wungu, atau Dewi Sekar
Wangi atau Dewi Nawang Wulan, istri Jaka Tarub, yang kini menjadi ratu
pantai selatan, bagian Cilacap. Siti Aisah atau Dewi Pembanyun atau
Nyimas Rara Ayu, Pokeshi, keturunan Demak, yang ibunya dinikahi oleh
Prabu Siliwangi, beliau pada akhirnya ngahyang dan menjadi Ratu Pantai
Selatan, bagian Demak Yogyakarta dan Solo. Dewi Nawang dan Nawang Sari,
putri dari Prabu Siliwangi yang menikah dengan Ratu Palaga Inggris,
beliau juga ngahyang dan menjadi penguasa pantai selatan, setelah
kerajaan ayahandanya raib akibat ditanam Lidi Lanang. Dewi Sekar Sari
atau Dewi Andini, salah satu putri Dewi Nawang Wulan, beliau sejak
lahir telah menempati salah satu wilayah pantai selatan, yang menguasai
Abdul Jumud dan Ahmar, bagian Sukabumi, Garut dan sekitarnya. Dalam hal
ini Misteri tidak membedarkan secara detail tentang sejati diri mereka,
namun hanya menceritakan perjalanan 7 tombak yang pernah menjadi bagian
dari hidup Dewi Nawang Wulan, putri dari Prabu Siliwangi, yang kini
telah diwariskan pada manusia bumi. Secara rinci 7 tombak yang dimaksud
dalam kisah kali ini punya nama dan gelar sebagai berikut :
- Tombak Cakra Langit, bergelar, Tombak Kesyahidan. Motif, lurus dengan kinatah emas murni berbentuk jangkar melingkar, ditengah badan menjulang empat tombak kecil melingkari kepala, dengan kinatah berlian red diamond memutar. Tombak ini diberikan kepada Kanjeng Suanan KaliJaga, untuk melawan kesaktian Prabu Siliwangi, atas perintah Prabu Panatagama Tajuddin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dalam penyebaran agama Islam, dan tombak ini sebagai cindra mata perkawinannya Dewi Nawang Wulan, dengan Sunan KaliJaga. Silsilah tombak Cakra Langit, akhirnya turun temurun diwariskan kepada ahlul Khosois, diantaranya, Quthbul Abdal, Syeikh Malaka Tajuddin, Makassar, Quthbul Muqoiyyad, Syeikh Hasyim bin Asy’ari, Aceh, yang diturunkan kepada muridnya Ahmad Suyuti bin Jamal, Kalimantan, Quthbul Autad Min Zumhur Ulama, Ki Tholkha Kalisapu, Mbah Hamid, KiPanjul dan kini berada ditangan Min ahlillah Qurbatul Wilayah Syareatul Khotam, namun sayang tidak boleh dipublikasikan.
- Tombal Punjul Wilayah, bergelar, tombak Antakusuma. Tombak ini diberikan kepada putrinya Andini, sebagai lambang dari tahta istananya yang dikemudian hari diberikan kepada suaminya Dampu Awuk, gunung Sembung. Lalu diturunkan kepada putrandannya yang bernama, Raden Sa’id atau pangeran LungBenda Jaya Negara. Dari Raden Sa’id, akhirnya berpindah tangan karena dicuri oleh segerombolan aliran hitam yang mengatas namakan perguruan “Kijang Kencana” yang dikepalai oleh murid sakti Pangeran Ambusana, Weleri Jawa Tengah. Baru setelah 20 tahun ditangannya, tombal Punjul akhirnya dimiliki seorang pertapa sakti Buyut Ajigung Ajiguna, setelah adu kesaktian. Kisah tombak ini turun temurun dijaga oleh sebagian bangsa Hindu dan pada akhirnya raib dihutan Banyuwangi Jawa Timur, dan baru setelah seorang Waliyullah kamil, Mbah Hafidz, yang berasal dari Timur Tengah, menduduki wilayah tersebut, akhirnya tombak Punjuk Wilayah, tetap terjaga. Kini tombak Punjul, masih dijaga oleh muridnya yang bernama Ki Panjalu Pati Jawa Tengah. Bentuk tombak Punjul Wilayah. Motif lurus, urat air hujan (Majapahit) warna hitam kebiruan, dengan lima ujung mata tombak mengarah kedepan. Tombak ini sudah dirombak dari bentuk aslinya oleh Mbah Hafidz, sebagai suatu pengelabuan dimasa yang akan datang agar tidak disalah gunakan.
- Tombak Panatagama, bergelar, Raja Maemun. Pemberian dari Sulthonul Jin Maemun Indramayu. Motif tiga cabang tombak kedepan, urat besi aji meteor legam, hitam bersisik tanpa pamor, dihiasi 7 batu merah delima, 3 zamrud Colombia dan 4 shapire Srilangka serta 11 batu biduri air. Silsilah tombak ini Misteri hanya kedapatan 4 orang dan lainnya tidak diketahui, yaitu, Syeikh Abdullah Al-Fanani Min Rijalullah, Syeikh Qosim Al-Jawi, Syeikh Mudaim, dan Ki Toha Tegal Gubug.
- Tombak Cemeti Rosul, bergelar Tombak Alam Jagat Raya. Tombak ini bermula dari pemberian Rosulullah, berupa cemetipanjang (Besi panjang) yang diberikan kepada Nabiyullah Hidir AS, sewaktu dibaiat Maqomul A’dzom, di alamus Sama tingkat enam, yang kemudian diberikan kepada Dewi Nawang Wulan, sewaktu dibaiat Syahadatiyyah oleh Ahli Rijal bangsa Rububiyyah ahlul Barri. Lewat mandat Dewi Nawang Wulan, bahan tadi dibentuk oleh abdi dalem, Empu Jalaga Widesa, berupa tombak mata satu dengan urat bumi yang sangat indah. Baru disaat kota Cirebon diserang oleh pasukan tamtama Lewmunding, Tombak ini diserahkan kepada Syeikh Magelung Sakti, sebagai benteng pertahanan paling kuat kota Pesisir. Lalu tujuh tahun setelah itu, tombak tadi diserahkan kepada Andika Syeikh Muhyi Pamijahan, atas ilafat Syeikh Sanusi goa gunung Mujarrob, yang menyatakan sudah waktunya berpindah tempat. Dari Syeikh Sanusi, Tombak Cemeti Rosul, akhirnya dirubah bentuk menjadi sebatang keris Budho madya kuno dengan urat alami jagat raya yang selalu menitikkan air disela uratnya, cara perubahan keris ini menurut pandangan Syeikh sanusi, sebagai lambang penyatuan antara Islam dan Kejawen yang diajarkan bangsa Waliyullah, pada masa itu. Sarung kerisnya dibuat dari kayu Kaukah, dengan dihiasi 21 batu merah delima, 41 zamrud Colombia, 17 shapire Birna, 70 berlian putih, dan 4 pink shapire srilangka. Pada tahun 1961, keris ini diberikan kepada Habib Muhammad bin Khudhori, Magelang, atas hawatif yang diterimanya untuk mengambil secara langsung didalam goa gunung Mujarrob, Tasikmalaya Jawa Barat. Dan pada tahun 1998, sebelum beliau wafat, keris ini diberikan kepada Habib Syeikh Arba’atul ‘Amadu, atas mandat langsung dari Syeikh Sanusi. Kelebihan dari wujud keris ini tidak bisa di foto dengan kamera digital maupun otomatis lainnya. Kini Keris Cemeti Rosul, sedang dipinjam oleh Ahlullah Quthbul Muthlak Habib Ali bin Ja’far Alawi, Arab Saudi.
- Tombak Karara Reksa, bergelar, Tombak Derajat. Motif bergerigi dengan cabang berantai lebih dari sepuluh. Warna putih gading dengan bentuk tumpul, memancarkan cahaya putih kehitaman. Tombak ini hasil riyadho Dewi Nawang Wulan Sendiri, sewaktu masih menjadi murid Ki Ageng Surya Pangeran Kuncung Anggah Buana (Ki Buyut Trusmi) Bahan yang dimilik tombak ini berasal dari kembang pinang yang sudah membatu. Kisah tombak Karara Reksa, selalu muncul sewaktu-waktu disaat menjelang pemilihan president, dan kini tombak tersebut masih terpelihara dialam istana ghoib laut selatan.
- Tombak Karara Mulya, bergelar, Tombak Mangku Mulyo. Tombak ini tidak diketahui pembuatnya, hanya saja setelah dipegang Dewi Nawang Wulan, tombak ini dihadiahkan atas perkawinan putrinya yang bernama, Nyimas Anting Retno Wulan, untuk suaminya Pangeran Jaladara, putra Kyai Ageng Bintaro Kejuden. Dari Pangeran Jaladara, diturunkan kepada putranya, Pangeran Seto Bulakamba, dan kemudian diwariskan pada gurunya Ki Alam Jagat Bumi, Banten, lalu turun temurun diberikan kepada Syeikh Asnawi Banten, Syeikh Masduki Lasem, Syeikh Samber Nyawa Purwodadi, Mbah Hafidz Banyuwangi dan yang terakhir kepada Habib Husein bin Umar bin Yahya Pekalongan. Asli dari bentuk tombak Karara Mulya, disetiap ujung sampai pangkal bawah berjeruji sangat tajam seperti mata kail pancing, namun demi menjaga kelestarian dari keberadaan tombak fenomenal ini akhirnyaHabib Husein, merombaknya seperti yang anda lihat saat ini.
- Tombak Tulungagung, bergelar Tombak Sapta Jati. Tombak ini diwariskan secara langsung dari tangan Dewi Nawang Wulan, sebagai tanda terima kasihnya, atas keluhuran derajat Habib Husein, yang mau menyelamatkan bumi Pekalongan, dari amukan tsunami hingga tidak sampai terjadi. Kisah ini terjadi pada tahun 1998, bulan Pebruari, tepatnya selasa kliwon. Kini tombak tersebut dirubah sedikit dari bentuk semula yang aslinya seperti segi tiga menjadi tombak lurus dengan pahatan panel bunga. Dan sebagai pengantar terakhir dari Misteri. Kisah ini sudah dapat restu dari beberapa orang terkait kecuali Habib Husein bin Umar, karena beliau kini sudah (Alm).
Semoga
dengan pembedaran kisah 7 tombak fenomenal yang barusan Misteri
bedarkan, menjadikan kita sadar diri dengan apa yang selama ini banyak
kita dengar. Karena apapun benda bertuah kelas wahid, tidak bakal jatuh
pada manusia yang masih memegang, katanya, dan aku-aku sebagai pedoman
hidup.
Sebab pemahaman tentaang keluasan bangsa gaib bersumber dari pembelajaran Ilmu Islam, Iman, Solah, Ihsan, Syahadatul Kubro, Siddikiyyah dan Qurbah, secara dhaukiyyah (Merasakan langsung)
Sebab pemahaman tentaang keluasan bangsa gaib bersumber dari pembelajaran Ilmu Islam, Iman, Solah, Ihsan, Syahadatul Kubro, Siddikiyyah dan Qurbah, secara dhaukiyyah (Merasakan langsung)
Diposting oleh
rico
di
19.47
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Jumat, 16 Desember 2011
ASMA ABDUL JABAR
BISMILLAHIRROHMAANIRROHIM ALLOHUL GHOLIIBU ALLOHUL QOHAR MUJIIRU KULLI JABBARIN ANNIDDIINA WA SIRRROL HAQ WA QUWWATI WA SULTHONI BI KALLAMULLAH
Kunci: YA RASYID YA QUDUS YA ILYASAA
Tawassul: Nabi Muhammad,
Malaikat 4 (Jibril, Isrofil, Izroil, Isrofil) Syekh Abdul Qodir
Jaelani, Bapak Ibu kita, diri kita, man ajazani. Khasiat: mencari ridho
Allah pada umumnya. Pengobatan penyakit medis dan non medis, menambah
bobot pukulan, karisma, pengasihan. Silahkan mengamalkannya. @@@
Diposting oleh
rico
di
07.32
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
AMALAN TAMBAHAN UNTUK YANG SEDANG TERLILIT HUTANG
Selain mengamalkan salawat dan doa di atas pada malam hari, khusus untuk Anda yang sedang terlilit hutang dan menginginkan segera terbayarnya hutang dengan solusi yang tidak disangka-sangka, maka bacalah ayat di bawah ini. Ayat 128-129 dari surat At-Taubah apabila diwiridkan setiap hari sesudah sholat fardlu lima waktu sebanyak 7 kali, oleh orang yang lemah maka ia menjadi kuat; jika yang membacanya orang hina maka ia menjadi mulia; jika kalah ia menjadi menang, kesulitannya menjadi mudah, jika rezkinya sempit maka dilapangkan oleh Allah; jika susah menjadi senang, dan jika ia berhutang maka hutangnya cepat terbayar. Mengingat dua ayat tersebut sangat banyak faedahnya/ khasiatnya, yang meliputi aspek kebutuhan atau hajat dalam kehidupan, maka hendaknya dijadikan wiridan tambahan setiap hari seusai mengerjakan sholat fardhu lima waktu.
Bismillahirrohmanirrohim. Laqod jaa-akum rosulum min anfusikum `aziizun `alaihi ma `anittum hariishun `alaikum bil mu`miniina ro-ufur rohiim. Fa inta wallaw faqul hasbiyallohu laa ilaha illa huwa `alaihi tawakkaltu wahuwa robbul `arsyil `azhiim.
ASMA SAYYID ABDUL JABBAR ABDUL KARIM
Salam Pamuji Rahayu dalem kangmas ki wongalus lan ki bengawan chandu lan poro pini sepuh sedulur sedoyo sing kawulo tresna ni.Ijazah :
Ku Ijazahkan Asma sayyid Abdul Jabbar Abdul Karim atas haq Allah dan Ijin Allah secara sempurna.
Jawab : Qabiltu (Tahan Napas ucap Aliif Laam Laam Haa 7x dan kirim Alfatihah ke sayyid Abdul Jabbar Abdul Karim)
Salam persaudaraan kepada seluruh sedulurku, ijinkan saya berbagi kembali setetes ilmu dari lautan ilmu yang dimiliki Allah SWT. semoga bisa menjadikan amalan bermanfaat dalam rangka menuju Ridho Allah SWT. Asma ini di ajarkan langsung oleh Rijalul ghoib Sayyid Abdul Jabbar Abdul Al Karim dibukit Jabal Nur dengan Astral. Disebuah gua yang sepi dan tenang layaknya sebuah Masjid dan penuh dengan Jama’ahnya. Dahulu ini adalah Asma yang pernah di gunakan oleh The Great Alexander ketika mengekspansi eropa. Dimana Iskandar Agung juga mengakui kenabian Ibrahim pada saat itu, Wallahu ‘alam. Berikut Asma Sayyid Abdul Jabbar Abdul Karim :
Tawasul :
- Illa Hadaratin Mustofa Nabiyyuna Muhammad SAW Al Fatihah
- Salamun ‘alaika Yaa Ahlul Baiti Samawaati Wa Bil Khususan Ummul Jami Malaikatul Muqorrobin Qorribin As samawaati Malaikatul Jibril AS Al Fatihah
- Salamun ‘alaika Yaa Jami Nabiyulloh wa Waliyulloh wa Sahilihin Fil Ardhi Al Fatihah
- Salamun ‘alaika Yaa Jami Rijalul Al Ghoibi Wabil Khususon Ar rijalul Ghoibi Assayyid Abdul Jabbar Abdul Karim Al Fatihah.
- Illa Hadaratin Al Fatihah ruuhi Man Ajzani Wong Djowo
- Illa Hadaratin Al FAtihah Abii Wa Umii Al FAtihah
- Iilla Hadaratin (Diri sendiri)
- Illa Hadaratin Al Fatihah Minal Muslimin Wal Muslimaat Mukminin Wal Mukminaati Al Ahyai Minhum Wal Amwaat
Asma sayyid Abdul Jabbar Abdul Karim :
Kunci Sebelum Membaca Asma ( Aliif Laam Laam Haaa Tahan napas di dada 7 x pernafasan)
Kalimat Pertama :
DZUL QUWWATIN ALIYYIL ADHIIM (dibaca 1000x atau hingga hati merasa ridho dan ikhlas) Selama 7 malam
Kalimat Kedua :
DZUL QUWWATIH AZZIZIL ADHIIM (dibaca 1000x atau hingga hati merasa ridho dan ikhlas) Selama 7 malam
Kalimat Ketiga :
INNA QUWWATAH AZZIZIL HAKIIIM (dibaca 1000x atau hingga hati merasa ridho dan ikhlas) Selama 7 malam
Kalimat Keempat :
BII BARRAKALLAHU INNA QUWWATAH AZIZZIL ADHIIM (dibaca 1000x atau hingga hati merasa ridho dan ikhlas) Selama 7 malam
Syarat Laku : silahkan di tempat yang hening dan bersih atau dirumah pun tak masalah asal bisa buat bertafakkur. Dalam zikir jgn tergesa2 resapilah dengan bertafakuur kebesaran Allah dan jauhi niyat2 diluar dari pada itu.
Pantangan : Jgn MOLIMO
Untuk khasiatnya silahkan di gali sendiri lebih dalam lagi karena semuanya atas ijin dan kehendak Allah SWT semata semuanya karomah atas ijin NYA semata.
Demikian Asma ini semoga bermanfaat bagi sedulurku semua, Bila ada dari diriku yang salah maka tinggalkanlah bila ada yang bermanfaat maka petiklah, aku bukanlah seorang pengamal aku hanya seorang pejalan yang berjalan menyusuri kehidupan mencari setetes embun ridho Allah yang menyejukkan. @@@
YA HAYYU YA QAYYUM, LAA ILAAHA ILLA ANTA (41 x perhari)
Hati nurani yang hidup menjadi guru
penuntun perbuatan manusia. Hati nurani yang mati, membuat manusia lebih
mengedepankan penggunaan akal. Apabila akal menjadi penguasa
satu-satunya, manusia cenderung tidak bijaksana. Nafsu, ego dan
keinginanlah yang akan dominan dan kepentingan orang lain akan
terabaikan.
Maka, hidupkanlah hati nurani.
Masalahnya, tidak mudah menghidupkan hati nurani–yang merupakan tempat
Tuhan memberikan pengajaran kepada setiap manusia. Perlu tekad/niat yang
kuat serta latihan. Latihan yang biasa saya jalankan adalah: LAKUKAN
PERBUATAN YANG TIDAK KAMU SENANGI. DAN JANGAN LAKUKAN PERBUATAN YANG
CENDERUNG KAMU SUKAI.
Contohnya: Saat saya ingin keluar rumah,
maka saya malah sengaja melawan keinginan tersebut dan tidak keluar
rumah. Saat saya ingin tidur karena mengantuk, maka saya justeru
melawannya dengan sholat. Saat dompet saya sedang kosong, maka saya
justeru menyumbangkan sedikit uang yang ada untuk orang fakir miskin.
Hakikat laku tirakat sebenarnya adalah
PENGENDALIAN DIRI. Yaitu mampu tidak mengutamakan diri sendiri yang
diliputi oleh NAFSU, EGO dan KEINGINAN. Namun lebih mengutamakan orang
lain, mengutamakan kepentingan masyarakat, mengutamakan kepentingan
Tuhan Yang Maha Kuasa. Para nabi/rasul/utusan Tuhan adalah contoh yang
sangat baik bagaimana mereka yang mampu MENGENDALIKAN/ MENGALAHKAN/
MENUNDUKKAN kepentingan diri sendiri dan mengutamakan UMAT/ MASYARAKAT/
ORANG LAIN. Sehingga hidupnya MEMBAWA BANYAK MANFAAT untuk sesama. Suka
menolong dan membantu makhluk-Nya yang menderita, lemah, tersingkir,
tidak diperhatikan.
Bila amal kebajikan ini telah menjadi
bagian utama laku syariat perbuatan kita, maka itulah saat kita
bermakrifat yakni diri sendiri sudah ditundukkan, dan diri-Nya yang akan
hadir. Gusti Allah akan manunggal di dalam “aku” kita. Allah menjadi
tangan, kaki, mulut, telinga dan seluruh perbuatan kita adalah
perbuatan-NYA.
Terakhir, ini ada kiat untuk menghidupkan
mata hati. Al Kattani, seorang sufi berkata: Aku bermimpi bertemu
Rasulullah SAW dan aku memohon padanya, berdoalah kepada Allah agar DIA
tidak mematikan hatiku. Rasulullah bersabda; ucapkan EMPAT PULUH SATU
KALI SETIAP HARI, YA HAYYU YA QAYYUM LAA ILAAHA ILLA ANTA, maka Allah
akan menghidupkan hatimu.
Abu Yazid al Bisthamu meriwayatkan: aku
bermimpi bertemu dengan Allah SWT, lantas aku bertanya kepada-Nya:
Bagaimana aku menempuh jalan kepada-MU? Allah berfirman: TINGGALKAN
DIRIMU DAN KEMARILAH”
Diposting oleh
rico
di
07.16
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)









